Hikmah Ahlulbait tentang Hari Raya

Hikmah Ahlulbait tentang Hari Raya

 

إِنَّمَا هُوَ عِيْدٌ لِمَنْ قَبِلَ اللهُ صِيَامَهُ ، وَشَكَرَ قِيَامَهُ ، وَكُلَّ يَوْمٍ لَا يُعْصَى اللهَ فِيْهِ فَهُوَ يَوْمُ عِيْد

Imam Ali bin Abi tholib berkata,

“Sesungguhnya hari raya itu hanya bagi orang yang diterima puasanya dan dibalas solat-solatnya oleh Allah. Setiap hari yang tidak ada maksiat kepada Allah didalamnya, maka itulah hari raya.”

(Mustadrak Al-Wasail, hal 149)

 

اَلْيَوْمُ لَنَا عِيْدٌ ، وَغَدًا لَنَا عِيْدٌ ، وَكُلُّ يَوْمٍ لَا نَعْصِي اللهَ فِيْهِ فَهُوَ لَنَا عِيْدٌ

“Hari ini bagi kami adalah hari raya dan besok juga hari raya. Dan setiap hari yang kami tidak bermaksiat kepada Allah didalamnya maka hari itu bagi kami adalah hari raya.”

(Mustadrak Al-Wasail, hal 154)

 

Imam Hasan as memperhatikan orang-orang yang bermain dan tertawa di hari raya idul fitri. Lalu beliau berkata kepada sahabatnya seraya memperhatikan mereka,

“Sungguh Allah azza wa jalla menjadikan bulan Ramadhan sebagai tempat latihan untuk hamba-Nya agar berlomba dalam ketaatan menuju keridhoan-Nya. Maka sekelompok orang mendahului (dengan perbuatan baik) maka mereka beruntung dan kelompok yang lain tertinggal sehingga merugi.

Sungguh aneh orang yang tertawa dan bermain-main di hari ketika orang-orang yang baik diberi pahala dan yang kurang amalnya kecewa.

 

إِذَا كَانَ أَوَّلُ يَوْمٍ مِنْ شَوَّال نَادَى مُنَادٍ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ أُغْدُوْا إِلَى جَوَائِزِكُمْ. ثُمَّ قَالَ: يَا جَابِر جَوَائِزُ اللهِ لَيْسَتْ كَجَوَائِزِ هَؤُلَاءِ الْمُلُوْكِ. ثُمَّ قَالَ: هُوَ يَوْمُ الْجَوَائِزِ

Imam Muhammad Al-Baqir berkata,

Di hari pertama bulan Syawal, ada suara seruan yang menyeru “Hai orang-orang mukmin, pergilah di pagi hari untuk mengambil hadiah-hadiah kalian.”

Kemudian Imam berkata, “Wahai Jabir, hadiah Allah tidak seperti hadiah para Raja.”

Lalu beliau melanjutkan, “Inilah hari (pembagian hadiah).”

(Wasail Syiah. Juz 7, hal 480)